Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupofStory diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
RAHASIA SECANGKIR KOPI
Dulu aku tidak percaya bahwa kopi
adalah minuman yang magis, bahkan untuk menghirup aromanya saja sudah cukup
membuat kepalaku pusing dan terasa mual.
“Rin! Cepat turun, papa sudah
menunggu di depan.” Aku mendesah mendengar teriakan mama, alih-alih segera
turun, aku malah duduk bersantai sambil menyisir rambutku perlahan. Tapi, tak
lupa aku menyahut, “Oke ma, sebentar lagi Rin turun.”
Yah, seperti inilah hari-hariku
semenjak selesai SMA. Sekarang menganggur, sembari menunggu kepastian diterima
atau tidak di universitas. Sebenarnya aku ada rencana untuk mengelilingi
Indonesia selama liburan ini, bersama dengan sahabatku, Mel. Kami berencana
akan berwisata ke Sumatera dan Kalimantan, kalau bisa kami pun ingin
mengelilingi sampai ke Papua. Semoga dapat terlaksana.
“Pagi ma,” sahutku seenaknya
sambil mengambil roti di meja makan. “Rin berangkat dulu.” Selama menanti izin
dari papa mama kesayangan, aku diharuskan membantu papa untuk mengurus
perusahaan distribusinya. Papa adalah pemilik perusahaan distribusi JavaX,
tidak hanya mengirimkan paket-paket biasa, tapi papa juga mulai menjadi
distributor utama kopi. Oke, KOPI, hal yang paling aku hindari karena aku tidak
ingin mengingat rasa pusing dan mual itu. Tapi apa daya seorang anak dihadapan
orangtuanya, dan akupun diminta untuk berkenalan dengan orang-orang pabrik,
wakil-wakil dari provinsi lain, dan segala jenis administrasi dan regulasi yang
ada. Oh ya, aku ini seorang anak kota, lahir, tinggal dan besar di Jakarta.
***
“Rin,
jadi ngga kita pergi berpetualang? Gue sudah mendapatkan izin dan tinggal
menunggu kabar dari lo. Untuk masalah tempat tinggal selama melancong, gue udah
minta tolong sama travel punya tante. Kabari gue segera ya. Bestie, Mel.”
Oke, aku membaca pesan dari Mel
berkali-kali. Bahkan seorang Mel, yang dikenal sangat patuh dengan orangtuanya
saja sudah berhasil mendapatkan izin. Aku harus segera bertindak.
“Ma, Pa, Rin mau pergi keliling
Indonesia barengan sama Mel, boleh, ya?” pintaku penuh harap pada saat kami
sedang makan malam, karena biasanya suasana hati kedua kesayanganku ini paling
bahagia ketika malam hari.
“Kamu mau ngapain, nak? Berbahaya
untuk dua orang gadis berpetualang, lagian tujuannya tidak jelas juga. Kalau
mau, kalian boleh pergi ke Bogor atau Bandung.” sahut papa.
“Yah, kalo itu mah, Rin uda
bosen, pa. Rin pengen jalan-jalan keluar dan melihat yang lain selain
gedung-gedung megah dan kemacetan yang parah setiap saat.” sungutku sambil
bernada manja.
“Rin, kamu boleh sih pergi sama
Mel, tapi kalau kalian berpergian itu ada tujuannya yang jelas. Jangan asal
cuma bilang mau pergi, langsung pergi.” sahut mama sembari mengambilkan air
untuk papa.
Hmm,
tujuan ya, apa yang harus kukatakan pada mereka agar mereka mengizinkan putri
mereka ini berpetualang?
Aku duduk termenung selama kira-kira
2 menit dan tiba-tiba ide itu datang. “Pa, Rin pergi sama Mel untuk mencari
cita rasa kopi nusantara, untuk membantu mengembangkan usaha distribusi papa.
Gimana? Sekali mendayung, dua tiga pula terlampaui, kan, pa?”
Papa tercengang mendengar gagasanku,
namun sedetik kemudian aku melihat senyum sumringah dari papa dan aku akan
berangkat minggu depan.
***
Tiga hari sebelum keberangkatan.
“Gue ngga nyangka elo bakal
ngusulin ide gila itu, Rin! Lo kan paling benci sama yang namanya kopi.” cerocos
Mel ketika kami berjumpa untuk membahas jadwal kegiatan kami di kota-kota
tujuan kami.
“Iya, gue tau ini terdengar gila
Mel, tapi kan elo pecinta kopi, hehe, dan dengan ini kita bisa pergi bareng,
gue yakin kalo kali ini akan sangat berbeda Mel. Mana tau kita ketemu jodoh.” gue
menggoda sahabatku.
“Rin, elo emang sahabat gue yang
paling ga tau diri, tapi gue saying sama lo.” Mel merangkulku dan kamipun
tertawa bersama sembari menyelesaikan jadwal petualangan kami yang akan kami
lakukan selama sebulan dan untuk 5 kota.
***
PADANG, SUMATERA BARAT
“Gila, Mel, ternyata kopi itu ada
banyak ya.” teriakku sambil mencari-cari keyword
di mesin pencari.
“Bagus juga, akhirnya elo sadar,
Rin. Dan ga semua kopi bakal bikin lo merasakan mual dan pusing, karena
aromanya akan berbeda-beda juga.” jawab sahabatku ini seenaknya. “Selain itu
kopi juga dapat meningkatkan mood, loh.”
“Iya deh, gue percaya sama elo,
tapi gue ga bakal percaya sama kopi.” balasku tak mau kalah. “Hari ini kita
akan pergi mencoba kopi talua, katanya itu terkenal di Padang, tempatnya dekat,
cuma butuh 10 menit jalan dari sini.”
“Oke, gue ganti baju dulu
sebentar.” Aku dapat merasakan kesenangan Mel dalam nada bicaranya.
***
“Lo yakin ga mau coba, Rin? Kopi
ini enak banget, ada campuran telur di dalamnya, tapi ngga berasa enek. Baru
kali ini gue nyobain kopi yang dicampur telur, dan rasanya enak, Rin, manis dan
gurih.” sambil menyodorkan gelasnya padaku.
“Ogah, Mel. Gue ga mau.” tolakku
sembari menyodorkan kembali gelasnya. Namun, ternyata Mel tidak menyerah, ia
menyendokkan sedikit kopi dan akhirnya aku menyerah. Aku menyesapnya perlahan,
berharap rasa itu tidak hadir.
“Brukk!” suara itu terdengar amat
jelas, seorang pemuda terjatuh dari tempat duduknya dan mengeluarkan cairan
darah dari kepalanya. Aku dan Mel bergegas turun dari bangku hendak melihat
asal tembakan misterius itu, yang bahkan suaranya tidak kami sadari, tapi tidak
berjejak.
“Rin, dia ga bakal ketolong lagi,
pelurunya tepat mengenai otaknya.” kata Mel, yang sering mengikuti pelatihan
P3K dari SD. “Sebaiknya kita telepon polisi saja, ini diluar dari kemampuan
kita.” Mel mengeluarkan handphone dan
entah hanya halusinasiku atau itu benar-benar nyata, aku melihat seorang wanita
tersenyum bengis ke arahku dari seberang jalan dan menghilang.
“Mel, kita harus pergi dari sini,
cepat.” Namun, tepat sebelum kami meninggalkan warung itu, pemilik warung
memberikan kertas kecil kepada kami sambil bergetar ketakutan.
LAIN
KALI, AKU PASTIKAN AKAN MENEMBAK JANTUNGMU
“Mel, kurasa ini akan menjadi
petualangan yang lebih dari sekedar mencari kopi. Ada yang sedang mengincar
kita. Entah lo, entah gue, yang jelas kita ngga aman.” tegasku pada Mel.
“Sebaiknya kita ganti saja rute
perjalanan kita, sepertinya mereka sudah tahu jadwal ini.” sahut Mel dengan
khawatir.
“Oke, rencana awal, kita kan stay disini 5 hari, kita percepat aja,
jadi lusa kita akan pergi ke Medan, supaya pengincar akan berpikir bahwa kita
mengikuti jadwal yang sudah disusun.”
“Gue akan minta tante untuk
pindahin jadwal tiket kita sekarang.”
Dan hari itu berlalu begitu saja.
Semua terlalu mendadak dan janggal. Apa penyebabnya? Siapa yang diincar?
Semuanya berputar di kepala gue malam itu.
Keesokan paginya kami berusaha
menikmati waktu sebaik-baiknya mengelilingi Padang dan mendatangi pantainya.
“Menurut lo, apa motif si penembak itu ya?” tanyaku saat kami sedang bersantai
pada Mel.
“Mungkin aja dia sirik sama lo,
atau dia hanya penembak yang acak dan kebetulan TKP-nya berada di dekat kita.”
jawab Mel sambil menyeruput kopinya. “Mel, kopi talua ini bener-bener jagoan,
gue kasih rating 8 dari 10. Gue suka buihnya yang lembut.”
***
Keesokan paginya, sebelum gue
benar-benar sadar, gue sudah berada di Medan. Ya, kami memilih penerbangan yang
paling pagi untuk berjaga-jaga.
“Rin, bangun, kita udah sampai di
Kualanamu.” sembari ia menepuk bahuku. Kami menaiki kereta api dan sekarang
sudah sampai di penginapan. “Horas! Kita lagi di Medan, surganya pecinta
makanan.” seru gue dengan penuh semangat.
“Oh ya, semalam, gue sempat browsing, ada satu jenis kopi yang terkenal
di sini, namanya Kopi Sidikalang, julukannya sih, Raja Kopi Sumatera.” aku
menunjukkan antusiasme dalam menyelesaikan janjiku pada papa. “Kopinya saingan
sama kopinya Brazil, katanya kadar kafeinnya tinggi dan rasanya kuat.”
“Wah, Rin sudah penuh dengan
persiapan, cocok deh jadi penerus usaha papa lo.” pujiku pada sahabatku ini.
Ya, kalau dia sudah punya tujuan, ia akan mengerjakannya dengan baik dan
tuntas. “Tapi, kita tetap harus waspada, Rin, dia mungkin saja mengetahui
rencana ini.”
Siang itu, saat itu dalam
perjalanan, gue menerima pesan dari seorang bernama Arif.
Sebaiknya
nanti lo langsung beli tiket untuk ke Surabaya besok. Jangan beritahu
siapa-siapa. Ini demi keamanan lo. Gua bakal jemput di bandara. Trust me and
you’ll be safe. Waiting, Arif.
Astaga, rupanya si penembak masih
terus berusaha untuk menghabisi nyawaku. Sekarang gue berada dalam dilema.
Haruskah gue pergi sesuai permintaan Arif, yang gue gak kenal, atau gue tetap
mengikuti jadwal yang udah direvisi bersama.
“Non, lamunin apa siang bolong
gini? Ayo, turun, udah sampai tempat minum kopi nih, Rin!” seruan Mel sontak
membuat gue kaget dan gue langsung ikut turun dari angkot.
“Here we are! Kopi Sidikalang,
wait for me, mama’s coming!” gue melihat wajah Mel yang begitu polos dan
seorang pecinta kopi sejati. Mana tega gue ninggalin cewek polos ini sendirian
di Medan? Kami memilih tempat yang agak pinggiran agar dapat merasakan suasana
sekitar, jauh dari hiruk pikuk kota, dan di kaca pintu masuk, gue melihat dia
lagi. Tatapan bengis itu. Dan dia selalu menghilang sebelum Mel dapat
melihatnya.
Akhirnya setelah gue
menimbang-nimbang resiko. Gue yakin banget kalau penembak itu cuma ngincar gue,
dan kalau gue pergi, Mel akan aman. Malam itu, aku memesan tiket ke Surabaya
sesuai dengan permintaan Arif. Semoga ini tidak menjadi akhir hidup gue.
SURABAYA, JAWA TIMUR
Terlalu banyak hal yang ga bisa
gue cerna, semuanya berlalu dengan sangat cepat. Dalam lima hari, gue sekarang
di Bandara Juanda, menunggu sosok pria misterius bernama Arif. Dan, ternyata
gak butuh waktu lama untuk melihatnya. Dia tampak jauh dari perkiraan gue.
Melewati batas imajinasi. Cowok dengan tinggi sekitar 175 cm, berkulit sawo
matang dan memiliki wajah khas jawa yang kental tapi dengan aksen wajah yang
gak kalah dari Morgan Oey, tapi tubuhnya tegap dan tampak gagah sambil
memegangi karton bertuliskan RIN DARI MEDAN.
“Hai, gue Rin.” sambil menatap
bingung, karena gue gak tau harus ngapain setelah ini. “Halo, saya Arif
Lukman.” Bahasanya yang sopan, membuat gue ikutan sopan, tapi Arif tidak
memiliki aksen jawa sama sekali. “Ayo, ikuti saya. Saya akan menceritakan apa
yang sedang terjadi dan solusinya kita bisa pikirkan bersama.” Kata cowok itu
sambil berjalan menuju arah parkir, dan gue dengan polosnya mengikutinya.
Semoga…. Ini tidak menjadi akhir hidup gue, seriously,
I’m still too young to die.
“Rin, kamu jangan kaget ya, saya
akan menceritakannya dari awal.” Dengan sabarnya Arif menceritakan segalanya.
Gue dan dia adalah teman masa kecil karena orangtua kami berteman baik. Lalu
ketika orangtua gue ke Singapura untuk bisnis, mereka di tipu dan di sekap oleh
orang yang kupanggil mama dan papa di rumah. “Saya mendapatkan informasi dari
orangtua saya. Kamu harus segera menyelamatkan orangtuamu. Mereka rencananya
akan dibunuh seminggu lagi. Saya sudah ada rencana, tapi saya membutuhkan
bantuanmu untuk melaksanakannya.”
“Apa?” aku bergetar, mendengarkan
fakta hidupku yang begitu tragis.
“Rin, kamu ingat dulu, kamu dulu
pernah tinggal bersama keluargaku selama setahun dan saat itulah terjadi
penyekapan itu. Saat itu kamu masih berusia satu tahun dan saya saat itu
berusia delapan tahun. Saya butuh bantuanmu untuk menyeduhkan kopi ini untuk
kedua ‘orangtuamu’.” Arif menyerahkan sebungkus kopi bubuk bertuliskan “TORAJA
COFFEE”. “Dan saya akan membantu untuk menyelamatkan orangtuamu. Saya akan
meminta bantuan teman-teman saya untuk menjaga pada tempat-tempat yang memiliki
kemungkinan digunakan sebagai tempat penyekapan orangtuamu. Dan untuk Mel...”
“Kenapa tentang Mel?” potongku
tak sabar dan jujur saja, otakku masih menolak semua yang diceritakan Arif
padaku. Semuanya terasa tidak nyata.
“Mel adalah anak kandung dari
‘orangtua’-mu. Dia bekerja sama dan berhasil menjadi teman terdekatmu. Sungguh
cara yang licik.” Arif tampak sedih, tapi ia harus menghentikan semua keadaaan
ini sebelum semuanya bertambah runyam.
“Tunggu… apa yang barusan lo
katakan? Mel… Mel…” aku sudah tidak bisa menahan air mataku dan aku terus
menangis sambil berharap bahwa ini semua adalah mimpi belaka. Namun, kenyataan
berkata lain. Ini hidupku dan aku harus tegar menghadapinya. Setelah aku mengatur
napas dan emosiku, aku menanyakan rencana yang akan dilakukan untuk
menyelamatkan orangtua asliku.
“Saya akan menyusup ke dalam
rumahmu, denahnya saya tahu karena dulu ayah saya yang mendesain rumahmu, saya
akan menuju ke dalam gudang rahasia yang kemungkinan besar menjadi tempat
penyekapan orangtuamu. Dan kamu hanya perlu pulang, dan memikirkan alasan
mengapa kamu berpisah dengan Mel, dan kemudian menyeduh kopi itu.” Lalu Arif
membisikkan sesuatu yang dapat membuktikan bahwa mereka bukanlah orangtuaku
yang asli.
***
11
missed calls from Mel, 30 messages from Mel
Aku melihat notifikasi pada handphone-ku. Dan kemudian aku
menghubungi Mel.
“Mel, sorry gue ninggalin lo,
tiba-tiba gua harus pergi karena…”
“Rin! Lo baik-baik aja kan? Gue
khawatir karena lo tiba-tiba ngilang.”
“Gue baik-baik aja, Mel. Lo
sekarang di mana? Sorry banget, Mel.”
“Syukurlah. Gue sekarang masih di
Medan. Kita ketemu di Jakarta aja ya, Rin.”
“Oke.”
Aku menutup telepon itu.
***
“Nanti malam kita akan langsung
berangkat ke Jakarta. Saya sudah membeli tiket, karena kita perlu mengatur
beberapa hal di Jakarta. Selama menunggu, kamu boleh beristirahat di hotel
dekat bandara.”
“Oke, dan terimakasih, Rif.”
***
JAKARTA
“Pa, Ma, Rin sudah pulang!”
Suasana yang mencekam terasa disekitar teras rumah. Tak pernah aku merasa
begitu tidak nyaman disekitar rumah.
“Masuk, Rin. Mama lagi masak,
papa lagi mandi.” Mama atau harus kusebut Nyonya Hendrawan. Aku bersikap biasa,
bagaimanapun, mereka telah menjagaku lebih dari sepuluh tahun.
Setelah membereskan
barang-barangku, aku bergegas ke dapur untuk menyeduh kopi. Tuan dan Nyonya
Hendrawan sedang bercengkrama di ruang tengah. Tiba-tiba aku merasa begitu
asing. Aku menyajikan kopi itu, dan mereka dengan tenangnya menyesap kopi itu.
“Pa, Ma, bukannya kalian tidak
bisa meminum kopi ini? Bukankah kalian alergi dengan aroma kopi?” Pertanyaan
inimembuat mereka tersentak dan…
“Kamu sebaiknya pergi sekarang,
sebelum kamu bergabung dengan mereka.” Senyum bengis dan matanya yang
menyalang, ia ingin menusukku dengan pisau yang ia ambil dari belakang bajunya.
“Buk!” pukulan itu membuat pisau terjatuh dan aku melihat sosok Arif. Aku
merasa sangat aman. “Lari, Rin, keluar, saya sudah menyelamatkan orangtuamu,
cepat, pergi dan segera ke rumah sakit!” Arif memerintahku dan aku pergi
meninggalkannya sambil mendoakan keselamatan Arif.
Samar-samar dalam perjalanan
menuju rumah sakit, aku mendengar sirene polisi berderu menuju arah rumahku.
Aku berharap semua akan berakhir dengan baik.
RUMAH SAKIT, JAKARTA
Semua berkelibat dalam pikiranku,
aku mengingat serpihan-serpihan masa laluku dan aku tersadar, bahwa aku telah
di tipu. Mereka bahkan mengoperasi wajahnya agar serupa dengan orangtuaku.
Mereka bukanlah manusia. Mereka adalah monster. Termasuk Mel. Begitu teganya,
ia menipuku selama ini. Aku kira ia tulus. Aku terlalu naif.
“Rin! Kamu baik-baik saja?” Arif
tiba di rumah sakit setelah sekitar satu jam aku di sini. “Semua sudah selesai,
Rin. Mereka semua sudah ditangkap termasuk Mel…” Arif dengan tenang menceritakannya,
walaupun dia terlihat lelah.
“Arif…” aku bergumam lemah.
“Mereka akan baik-baik saja. Mereka hanya pingsan karena kekurangan cairan.
Kami akan bisa kembali seperti dulu lagi. Ya, kan? Begitu, kan?” Sebenarnya aku
meragukan srtiap kata yang kuucap, tapi aku tak boleh menambah beban Arif. Ia
sudah terlalu baik membantuku, walaupun kami baru berjumpa setelah
bertahun-tahun.
SEBULAN KEMUDIAN
“Arif, silahkan masuk. Mau
mencari Rin, ya?” kata-kata papa terdengar menggoda Arif.
“Ya, sebentar, aku sedang
menyeduh kopi Toraja untukmu, Mas!” sahutku dari dapur.
Begitulah, orangtua palsuku dan
Mel dijatuhkan hukuman penjara seumur hidup, dan sekarang aku sudah hidup
bersama dengan orangtuaku, kesayanganku, dan aku tak mau kehilangan mereka
lagi. Tambahan, sekarang aku sedang belajar untuk mencintai kopi karena Mas
Arif seorang pecinta kopi dan aku ingin menjadi pasangannya dalam menghadapi
hidup, seperti rasa kopi, kadang manis, pahit dan sepet, namun tetap hangat.
Secangkir kopi yang mengubah
hidupku dan mempertemukanku dengan jodohku. Kopi adalah sesuatu yang magis.
****