Sabtu, 27 Agustus 2016

The Return of Asap

Hai guys, selamat menikmati weekend! Refresh your mind, body and soul.
Hari ini aku akan berbagi mengenai asap.

Kasus kebakaran hutan dan lahan sudah berlangsung setiap tahun, tapi tetap saja pemerintah tak mampu mencegahnya. Padahal bulannya sudah jelas, di kisaran musim kemarau. Ironis sekali. Pagi hari tidak lagi ada udara segar, kalian akan di sambut dengan asap, sinar matahari tak lagi cemerlang, terhalang asap.

Asap merupakan bencana. Bayangkan saja, kalian tidak dapat menghirup udara bersih selama berbulan-bulan. Ingin rasanya tidak bernapas, tapi apa daya, tak bisa dilakukan. Sudah banyak juga kasus orang meninggal karena keracunan asap. Bahkan sekolah di liburkan, tapi apakah di rumah tidak ada asap?? Sungguh menyesakkan. Jangan sampai bandara di tutup, bayangkan saja guys, separah apa asap di sebuah daerah apabila bandara di tutup?

Berbulan-bulan, semoga pemerintah dapat mengatasi bencana asap ini sebelum kota ini kembali menjadi kota mati. 

Your citizen,

GCT

Sabtu, 20 Agustus 2016

CERPEN: Rahasia Secangkir Kopi

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupofStory diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

RAHASIA SECANGKIR KOPI
Dulu aku tidak percaya bahwa kopi adalah minuman yang magis, bahkan untuk menghirup aromanya saja sudah cukup membuat kepalaku pusing dan terasa mual.
“Rin! Cepat turun, papa sudah menunggu di depan.” Aku mendesah mendengar teriakan mama, alih-alih segera turun, aku malah duduk bersantai sambil menyisir rambutku perlahan. Tapi, tak lupa aku menyahut, “Oke ma, sebentar lagi Rin turun.”
Yah, seperti inilah hari-hariku semenjak selesai SMA. Sekarang menganggur, sembari menunggu kepastian diterima atau tidak di universitas. Sebenarnya aku ada rencana untuk mengelilingi Indonesia selama liburan ini, bersama dengan sahabatku, Mel. Kami berencana akan berwisata ke Sumatera dan Kalimantan, kalau bisa kami pun ingin mengelilingi sampai ke Papua. Semoga dapat terlaksana.
“Pagi ma,” sahutku seenaknya sambil mengambil roti di meja makan. “Rin berangkat dulu.” Selama menanti izin dari papa mama kesayangan, aku diharuskan membantu papa untuk mengurus perusahaan distribusinya. Papa adalah pemilik perusahaan distribusi JavaX, tidak hanya mengirimkan paket-paket biasa, tapi papa juga mulai menjadi distributor utama kopi. Oke, KOPI, hal yang paling aku hindari karena aku tidak ingin mengingat rasa pusing dan mual itu. Tapi apa daya seorang anak dihadapan orangtuanya, dan akupun diminta untuk berkenalan dengan orang-orang pabrik, wakil-wakil dari provinsi lain, dan segala jenis administrasi dan regulasi yang ada. Oh ya, aku ini seorang anak kota, lahir, tinggal dan besar di Jakarta.
***
“Rin, jadi ngga kita pergi berpetualang? Gue sudah mendapatkan izin dan tinggal menunggu kabar dari lo. Untuk masalah tempat tinggal selama melancong, gue udah minta tolong sama travel punya tante. Kabari gue segera ya. Bestie, Mel.”
Oke, aku membaca pesan dari Mel berkali-kali. Bahkan seorang Mel, yang dikenal sangat patuh dengan orangtuanya saja sudah berhasil mendapatkan izin. Aku harus segera bertindak.
“Ma, Pa, Rin mau pergi keliling Indonesia barengan sama Mel, boleh, ya?” pintaku penuh harap pada saat kami sedang makan malam, karena biasanya suasana hati kedua kesayanganku ini paling bahagia ketika malam hari.
“Kamu mau ngapain, nak? Berbahaya untuk dua orang gadis berpetualang, lagian tujuannya tidak jelas juga. Kalau mau, kalian boleh pergi ke Bogor atau Bandung.” sahut papa.
“Yah, kalo itu mah, Rin uda bosen, pa. Rin pengen jalan-jalan keluar dan melihat yang lain selain gedung-gedung megah dan kemacetan yang parah setiap saat.” sungutku sambil bernada manja.
“Rin, kamu boleh sih pergi sama Mel, tapi kalau kalian berpergian itu ada tujuannya yang jelas. Jangan asal cuma bilang mau pergi, langsung pergi.” sahut mama sembari mengambilkan air untuk papa.
Hmm, tujuan ya, apa yang harus kukatakan pada mereka agar mereka mengizinkan putri mereka ini berpetualang?
Aku duduk termenung selama kira-kira 2 menit dan tiba-tiba ide itu datang. “Pa, Rin pergi sama Mel untuk mencari cita rasa kopi nusantara, untuk membantu mengembangkan usaha distribusi papa. Gimana? Sekali mendayung, dua tiga pula terlampaui, kan, pa?”
Papa tercengang mendengar gagasanku, namun sedetik kemudian aku melihat senyum sumringah dari papa dan aku akan berangkat minggu depan.
***
Tiga hari sebelum keberangkatan.
“Gue ngga nyangka elo bakal ngusulin ide gila itu, Rin! Lo kan paling benci sama yang namanya kopi.” cerocos Mel ketika kami berjumpa untuk membahas jadwal kegiatan kami di kota-kota tujuan kami.
“Iya, gue tau ini terdengar gila Mel, tapi kan elo pecinta kopi, hehe, dan dengan ini kita bisa pergi bareng, gue yakin kalo kali ini akan sangat berbeda Mel. Mana tau kita ketemu jodoh.” gue menggoda sahabatku.
“Rin, elo emang sahabat gue yang paling ga tau diri, tapi gue saying sama lo.” Mel merangkulku dan kamipun tertawa bersama sembari menyelesaikan jadwal petualangan kami yang akan kami lakukan selama sebulan dan untuk 5 kota.
***
PADANG, SUMATERA BARAT
“Gila, Mel, ternyata kopi itu ada banyak ya.” teriakku sambil mencari-cari keyword di mesin pencari.
“Bagus juga, akhirnya elo sadar, Rin. Dan ga semua kopi bakal bikin lo merasakan mual dan pusing, karena aromanya akan berbeda-beda juga.” jawab sahabatku ini seenaknya. “Selain itu kopi juga dapat meningkatkan mood, loh.”
“Iya deh, gue percaya sama elo, tapi gue ga bakal percaya sama kopi.” balasku tak mau kalah. “Hari ini kita akan pergi mencoba kopi talua, katanya itu terkenal di Padang, tempatnya dekat, cuma butuh 10 menit jalan dari sini.”
“Oke, gue ganti baju dulu sebentar.” Aku dapat merasakan kesenangan Mel dalam nada bicaranya.
***
“Lo yakin ga mau coba, Rin? Kopi ini enak banget, ada campuran telur di dalamnya, tapi ngga berasa enek. Baru kali ini gue nyobain kopi yang dicampur telur, dan rasanya enak, Rin, manis dan gurih.” sambil menyodorkan gelasnya padaku.
“Ogah, Mel. Gue ga mau.” tolakku sembari menyodorkan kembali gelasnya. Namun, ternyata Mel tidak menyerah, ia menyendokkan sedikit kopi dan akhirnya aku menyerah. Aku menyesapnya perlahan, berharap rasa itu tidak hadir.
“Brukk!” suara itu terdengar amat jelas, seorang pemuda terjatuh dari tempat duduknya dan mengeluarkan cairan darah dari kepalanya. Aku dan Mel bergegas turun dari bangku hendak melihat asal tembakan misterius itu, yang bahkan suaranya tidak kami sadari, tapi tidak berjejak.
“Rin, dia ga bakal ketolong lagi, pelurunya tepat mengenai otaknya.” kata Mel, yang sering mengikuti pelatihan P3K dari SD. “Sebaiknya kita telepon polisi saja, ini diluar dari kemampuan kita.” Mel mengeluarkan handphone dan entah hanya halusinasiku atau itu benar-benar nyata, aku melihat seorang wanita tersenyum bengis ke arahku dari seberang jalan dan menghilang.
“Mel, kita harus pergi dari sini, cepat.” Namun, tepat sebelum kami meninggalkan warung itu, pemilik warung memberikan kertas kecil kepada kami sambil bergetar ketakutan.
LAIN KALI, AKU PASTIKAN AKAN MENEMBAK JANTUNGMU
“Mel, kurasa ini akan menjadi petualangan yang lebih dari sekedar mencari kopi. Ada yang sedang mengincar kita. Entah lo, entah gue, yang jelas kita ngga aman.” tegasku pada Mel.
“Sebaiknya kita ganti saja rute perjalanan kita, sepertinya mereka sudah tahu jadwal ini.” sahut Mel dengan khawatir.
“Oke, rencana awal, kita kan stay disini 5 hari, kita percepat aja, jadi lusa kita akan pergi ke Medan, supaya pengincar akan berpikir bahwa kita mengikuti jadwal yang sudah disusun.”
“Gue akan minta tante untuk pindahin jadwal tiket kita sekarang.”
Dan hari itu berlalu begitu saja. Semua terlalu mendadak dan janggal. Apa penyebabnya? Siapa yang diincar? Semuanya berputar di kepala gue malam itu.
Keesokan paginya kami berusaha menikmati waktu sebaik-baiknya mengelilingi Padang dan mendatangi pantainya. “Menurut lo, apa motif si penembak itu ya?” tanyaku saat kami sedang bersantai pada Mel.
“Mungkin aja dia sirik sama lo, atau dia hanya penembak yang acak dan kebetulan TKP-nya berada di dekat kita.” jawab Mel sambil menyeruput kopinya. “Mel, kopi talua ini bener-bener jagoan, gue kasih rating 8 dari 10. Gue suka buihnya yang lembut.”
***
Keesokan paginya, sebelum gue benar-benar sadar, gue sudah berada di Medan. Ya, kami memilih penerbangan yang paling pagi untuk berjaga-jaga.
“Rin, bangun, kita udah sampai di Kualanamu.” sembari ia menepuk bahuku. Kami menaiki kereta api dan sekarang sudah sampai di penginapan. “Horas! Kita lagi di Medan, surganya pecinta makanan.” seru gue dengan penuh semangat.
“Oh ya, semalam, gue sempat browsing, ada satu jenis kopi yang terkenal di sini, namanya Kopi Sidikalang, julukannya sih, Raja Kopi Sumatera.” aku menunjukkan antusiasme dalam menyelesaikan janjiku pada papa. “Kopinya saingan sama kopinya Brazil, katanya kadar kafeinnya tinggi dan rasanya kuat.”
“Wah, Rin sudah penuh dengan persiapan, cocok deh jadi penerus usaha papa lo.” pujiku pada sahabatku ini. Ya, kalau dia sudah punya tujuan, ia akan mengerjakannya dengan baik dan tuntas. “Tapi, kita tetap harus waspada, Rin, dia mungkin saja mengetahui rencana ini.”
Siang itu, saat itu dalam perjalanan, gue menerima pesan dari seorang bernama Arif.
Sebaiknya nanti lo langsung beli tiket untuk ke Surabaya besok. Jangan beritahu siapa-siapa. Ini demi keamanan lo. Gua bakal jemput di bandara. Trust me and you’ll be safe. Waiting, Arif.
***
Astaga, rupanya si penembak masih terus berusaha untuk menghabisi nyawaku. Sekarang gue berada dalam dilema. Haruskah gue pergi sesuai permintaan Arif, yang gue gak kenal, atau gue tetap mengikuti jadwal yang udah direvisi bersama.
“Non, lamunin apa siang bolong gini? Ayo, turun, udah sampai tempat minum kopi nih, Rin!” seruan Mel sontak membuat gue kaget dan gue langsung ikut turun dari angkot.
“Here we are! Kopi Sidikalang, wait for me, mama’s coming!” gue melihat wajah Mel yang begitu polos dan seorang pecinta kopi sejati. Mana tega gue ninggalin cewek polos ini sendirian di Medan? Kami memilih tempat yang agak pinggiran agar dapat merasakan suasana sekitar, jauh dari hiruk pikuk kota, dan di kaca pintu masuk, gue melihat dia lagi. Tatapan bengis itu. Dan dia selalu menghilang sebelum Mel dapat melihatnya.
Akhirnya setelah gue menimbang-nimbang resiko. Gue yakin banget kalau penembak itu cuma ngincar gue, dan kalau gue pergi, Mel akan aman. Malam itu, aku memesan tiket ke Surabaya sesuai dengan permintaan Arif. Semoga ini tidak menjadi akhir hidup gue.
SURABAYA, JAWA TIMUR
Terlalu banyak hal yang ga bisa gue cerna, semuanya berlalu dengan sangat cepat. Dalam lima hari, gue sekarang di Bandara Juanda, menunggu sosok pria misterius bernama Arif. Dan, ternyata gak butuh waktu lama untuk melihatnya. Dia tampak jauh dari perkiraan gue. Melewati batas imajinasi. Cowok dengan tinggi sekitar 175 cm, berkulit sawo matang dan memiliki wajah khas jawa yang kental tapi dengan aksen wajah yang gak kalah dari Morgan Oey, tapi tubuhnya tegap dan tampak gagah sambil memegangi karton bertuliskan RIN DARI MEDAN.
“Hai, gue Rin.” sambil menatap bingung, karena gue gak tau harus ngapain setelah ini. “Halo, saya Arif Lukman.” Bahasanya yang sopan, membuat gue ikutan sopan, tapi Arif tidak memiliki aksen jawa sama sekali. “Ayo, ikuti saya. Saya akan menceritakan apa yang sedang terjadi dan solusinya kita bisa pikirkan bersama.” Kata cowok itu sambil berjalan menuju arah parkir, dan gue dengan polosnya mengikutinya. Semoga…. Ini tidak menjadi akhir hidup gue, seriously, I’m still too young to die.
“Rin, kamu jangan kaget ya, saya akan menceritakannya dari awal.” Dengan sabarnya Arif menceritakan segalanya. Gue dan dia adalah teman masa kecil karena orangtua kami berteman baik. Lalu ketika orangtua gue ke Singapura untuk bisnis, mereka di tipu dan di sekap oleh orang yang kupanggil mama dan papa di rumah. “Saya mendapatkan informasi dari orangtua saya. Kamu harus segera menyelamatkan orangtuamu. Mereka rencananya akan dibunuh seminggu lagi. Saya sudah ada rencana, tapi saya membutuhkan bantuanmu untuk melaksanakannya.”
“Apa?” aku bergetar, mendengarkan fakta hidupku yang begitu tragis.
“Rin, kamu ingat dulu, kamu dulu pernah tinggal bersama keluargaku selama setahun dan saat itulah terjadi penyekapan itu. Saat itu kamu masih berusia satu tahun dan saya saat itu berusia delapan tahun. Saya butuh bantuanmu untuk menyeduhkan kopi ini untuk kedua ‘orangtuamu’.” Arif menyerahkan sebungkus kopi bubuk bertuliskan “TORAJA COFFEE”. “Dan saya akan membantu untuk menyelamatkan orangtuamu. Saya akan meminta bantuan teman-teman saya untuk menjaga pada tempat-tempat yang memiliki kemungkinan digunakan sebagai tempat penyekapan orangtuamu. Dan untuk Mel...”
“Kenapa tentang Mel?” potongku tak sabar dan jujur saja, otakku masih menolak semua yang diceritakan Arif padaku. Semuanya terasa tidak nyata.
“Mel adalah anak kandung dari ‘orangtua’-mu. Dia bekerja sama dan berhasil menjadi teman terdekatmu. Sungguh cara yang licik.” Arif tampak sedih, tapi ia harus menghentikan semua keadaaan ini sebelum semuanya bertambah runyam.
“Tunggu… apa yang barusan lo katakan? Mel… Mel…” aku sudah tidak bisa menahan air mataku dan aku terus menangis sambil berharap bahwa ini semua adalah mimpi belaka. Namun, kenyataan berkata lain. Ini hidupku dan aku harus tegar menghadapinya. Setelah aku mengatur napas dan emosiku, aku menanyakan rencana yang akan dilakukan untuk menyelamatkan orangtua asliku.
“Saya akan menyusup ke dalam rumahmu, denahnya saya tahu karena dulu ayah saya yang mendesain rumahmu, saya akan menuju ke dalam gudang rahasia yang kemungkinan besar menjadi tempat penyekapan orangtuamu. Dan kamu hanya perlu pulang, dan memikirkan alasan mengapa kamu berpisah dengan Mel, dan kemudian menyeduh kopi itu.” Lalu Arif membisikkan sesuatu yang dapat membuktikan bahwa mereka bukanlah orangtuaku yang asli.
***
11 missed calls from Mel, 30 messages from Mel
Aku melihat notifikasi pada handphone-ku. Dan kemudian aku menghubungi Mel.
“Mel, sorry gue ninggalin lo, tiba-tiba gua harus pergi karena…”
“Rin! Lo baik-baik aja kan? Gue khawatir karena lo tiba-tiba ngilang.”
“Gue baik-baik aja, Mel. Lo sekarang di mana? Sorry banget, Mel.”
“Syukurlah. Gue sekarang masih di Medan. Kita ketemu di Jakarta aja ya, Rin.”
“Oke.”
Aku menutup telepon itu.
***
“Nanti malam kita akan langsung berangkat ke Jakarta. Saya sudah membeli tiket, karena kita perlu mengatur beberapa hal di Jakarta. Selama menunggu, kamu boleh beristirahat di hotel dekat bandara.”
“Oke, dan terimakasih, Rif.”
***
JAKARTA
“Pa, Ma, Rin sudah pulang!” Suasana yang mencekam terasa disekitar teras rumah. Tak pernah aku merasa begitu tidak nyaman disekitar rumah.
“Masuk, Rin. Mama lagi masak, papa lagi mandi.” Mama atau harus kusebut Nyonya Hendrawan. Aku bersikap biasa, bagaimanapun, mereka telah menjagaku lebih dari sepuluh tahun.
Setelah membereskan barang-barangku, aku bergegas ke dapur untuk menyeduh kopi. Tuan dan Nyonya Hendrawan sedang bercengkrama di ruang tengah. Tiba-tiba aku merasa begitu asing. Aku menyajikan kopi itu, dan mereka dengan tenangnya menyesap kopi itu.
“Pa, Ma, bukannya kalian tidak bisa meminum kopi ini? Bukankah kalian alergi dengan aroma kopi?” Pertanyaan inimembuat mereka tersentak dan…
“Kamu sebaiknya pergi sekarang, sebelum kamu bergabung dengan mereka.” Senyum bengis dan matanya yang menyalang, ia ingin menusukku dengan pisau yang ia ambil dari belakang bajunya.
“Buk!” pukulan itu membuat pisau  terjatuh dan aku melihat sosok Arif. Aku merasa sangat aman. “Lari, Rin, keluar, saya sudah menyelamatkan orangtuamu, cepat, pergi dan segera ke rumah sakit!” Arif memerintahku dan aku pergi meninggalkannya sambil mendoakan keselamatan Arif.
Samar-samar dalam perjalanan menuju rumah sakit, aku mendengar sirene polisi berderu menuju arah rumahku. Aku berharap semua akan berakhir dengan baik.
RUMAH SAKIT, JAKARTA
Semua berkelibat dalam pikiranku, aku mengingat serpihan-serpihan masa laluku dan aku tersadar, bahwa aku telah di tipu. Mereka bahkan mengoperasi wajahnya agar serupa dengan orangtuaku. Mereka bukanlah manusia. Mereka adalah monster. Termasuk Mel. Begitu teganya, ia menipuku selama ini. Aku kira ia tulus. Aku terlalu naif.
“Rin! Kamu baik-baik saja?” Arif tiba di rumah sakit setelah sekitar satu jam aku di sini. “Semua sudah selesai, Rin. Mereka semua sudah ditangkap termasuk Mel…” Arif dengan tenang menceritakannya, walaupun dia terlihat lelah.
“Arif…” aku bergumam lemah. “Mereka akan baik-baik saja. Mereka hanya pingsan karena kekurangan cairan. Kami akan bisa kembali seperti dulu lagi. Ya, kan? Begitu, kan?” Sebenarnya aku meragukan srtiap kata yang kuucap, tapi aku tak boleh menambah beban Arif. Ia sudah terlalu baik membantuku, walaupun kami baru berjumpa setelah bertahun-tahun.
SEBULAN KEMUDIAN
“Arif, silahkan masuk. Mau mencari Rin, ya?” kata-kata papa terdengar menggoda Arif.
“Ya, sebentar, aku sedang menyeduh kopi Toraja untukmu, Mas!” sahutku dari dapur.
Begitulah, orangtua palsuku dan Mel dijatuhkan hukuman penjara seumur hidup, dan sekarang aku sudah hidup bersama dengan orangtuaku, kesayanganku, dan aku tak mau kehilangan mereka lagi. Tambahan, sekarang aku sedang belajar untuk mencintai kopi karena Mas Arif seorang pecinta kopi dan aku ingin menjadi pasangannya dalam menghadapi hidup, seperti rasa kopi, kadang manis, pahit dan sepet, namun tetap hangat.
Secangkir kopi yang mengubah hidupku dan mempertemukanku dengan jodohku. Kopi adalah sesuatu yang magis.
****


Senin, 08 Agustus 2016

Sekolah Full Time?!

Halo guys, hari ini aku mau berbagi pemikiran saja mengenai rencana dari MENDIKBUD baru, Muhadjir Effendy. Semoga kalian menyukainya :D

Pro:
1. Anak dapat dijemput oleh orangtua
Salah satu faktor yang paling dibesar-besarkan, bahwa anak dapat pulang bersama dengan orangtuanya, karena sekolah akan berakhir pada jam selesai kerja kantor (jam 5 sore).



2. Tugas dapat diselesaikan disekolah
Ini sih menjadi poin yang agak menggiurkan, karena keberadaan PR selalu menjadi beban tersendiri bagi para murid.

3. Murid terhindar dari tindakan liar
Karena mereka akan berada di sekolah hingga sore, dan kemudian dijemput, pulang ke rumah, sampai di rumah sudah malam, dan mendekati jam-jam tidur.


Kontra:
1. Menambah macet
Coba saja bayangkan bahwa setiap jam 5, semua kendaraan akan bergerak menuju sekolah anak-anak mereka secara serentak. Apa yang akan terjadi? Kemacetan! Apalagi jika terjadi di kota besar seperti Jakarta, Bisa dibayangkan guys? Mau sampai rumah jam berapa?



2. Tidak ada waktu untuk bersantai dan mengembangkan bakat
Kalau mereka dipulangkan dengan cepat, mereka dapat bereksplorasi secara lebih luas, tidak terbatas pada lingkungan sekolah. Mereka juga dapat mengikuti les-les yang mendukung bakat mereka, yang tidak tersedia di sekolah.


3. Sampai rumah sudah malam
Masuk sekolah pada jam pagi dan berakhir pada sore hari. Saya berpikir, anak-anak ini ke sekolah untuk menimba ilmu, bukannya untuk bekerja full time. Jangan siksa anak murid kita, Pak Mentri.


Sebagai generasi yang lahir di tahun 90-an, saya sudah merasakan 3 jenis kurikulum, dan hal itu tidak menyenangkan sama sekali. Karena sistem berubah-ubah hampir setiap tahun, kami sebagai guru dan murid menjadi bingung.
Tolong bangunlah sebuah sistem standar, yang dapat dikembangkan, jangan mengubah keseluruhan sistemnya, Pak.

Peace,
GCT

*all pictures are not mine*

Selasa, 02 Agustus 2016

Halo Agustus

Hai semuanyaa... makasih yang sudah menyempatkan waktu untuk sekedar membaca tulisan di blog ini (hehehe..). Sudah lama aku tidak menulis, maaf yaa.. >.<"

Agustus identik dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus. Apa aja sih yang biasanya teman-teman lakukan di saat kemerdekaan? (tinggalkan komentar :) ). Apakah di daerah kalian masih ramai dengan berbagai perlombaan? Perlombaan kesukaan kalian apa? Kalo aku sih biasanya suka makan kerupuk aja *makangratis*

Sudah 71 tahun Indonesia merdeka. Sebagai pemuda Indonesia, ayo bersama tingkatkan kemakmuran negara kita. Mulailah dengan hal-hal kecil disekitar, misalnya dengan membuang sampah pada tempatnya, yang tidak hanya akan menguntungkan teman-teman, tapi juga akan membuat lingkungan menjadi lebih bersih dan indah.

Selain itu, teman-teman juga dapat berkontribusi dengan tidak lagi menerobos lalu lintas, berhentilah ketika lampu merah, berikan kesempatan menyebrang untuk teman yang akan menyebrang di zebra cross, jangan izinkan anak dibawah umur (sesuai dengan hukum) untuk mengendarai kendaraan apapun yaa, ingat, apapun alasannya, itu bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.



Sekecil apapun kontribusi teman-teman, coba bayangkan bahwa semua orang melakukan hal itu bersama-sama. Hanya perlu sedikit keteguhan dan niat, aku yakin bahwa kita semua dapat memberikan sesuatu untuk Indonesia. Dirgahayu Indonesia!